Anak Sensitif Habis Liburan? Ini Kata Ahlinya

Anak Sensitif Habis Liburan? Ini Kata Ahlinya

Anak Sensitif Habis Liburan? Ini Kata Ahlinya Yang Memang Hal Seperti Ini Memang Sangat Umum Terjadi Kepada Mereka. Liburan sering di anggap sebagai momen menyenangkan bagi anak dan keluarga. Namun, tidak sedikit orang tua yang justru kebingungan ketika anak menjadi lebih sensitif setelah masa liburan berakhir. Dan Anak Sensitif, menangis tanpa sebab jelas, atau tampak murung saat kembali ke rutinitas sekolah. Fenomena ini ternyata bukan hal aneh. Para ahli psikologi anak menyebutnya sebagai bentuk “post-holiday adjustment”. Atau fase penyesuaian ulang setelah perubahan ritme aktivitas. Lalu, mengapa anak sensitif habis liburan? Apa penyebabnya, dan bagaimana cara orang tua menyikapinya? Berikut penjelasan lengkap yang bisa menjadi panduan dari Anak Sensitif sehabis liburan.

Perubahan Rutinitas Jadi Pemicu Utama

Salah satu faktor utama yang membuat jadi pemarah setelah liburan adalah Perubahan Rutinitas Jadi Pemicu Utama. Selama liburan, jadwal tidur cenderung lebih fleksibel, waktu bermain lebih panjang. Dan aturan rumah bisa sedikit longgar. Anak menikmati kebebasan yang jarang mereka rasakan saat hari sekolah. Namun demikian, ketika masa liburan selesai, anak harus kembali pada pola disiplin: bangun pagi, mengerjakan tugas. Terlebihnya hingga membatasi waktu bermain. Transisi mendadak inilah yang kerap memicu emosi tidak stabil.

Menurut para ahli perkembangan anak, rutinitas memberi rasa aman dan prediktabilitas. Ketika pola itu berubah drastis dua kali pertama saat masuk masa liburan dan kedua saat kembali ke sekolah. Maka anak perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Sensitivitas yang muncul sebenarnya adalah respons alami terhadap perubahan tersebut. Oleh karena itu, penting bagi orang tua memahami bahwa anak sensitif habis liburan bukan berarti mereka “manja”. Namun melainkan sedang beradaptasi kembali.

Kelelahan Emosional Yang Tak Di Sadari

Selain perubahan jadwal, faktor lain yang sering luput di perhatikan adalah Kelelahan Emosional Yang Tak Di Sadari. Liburan memang identik dengan kesenangan. Akan tetapi juga bisa sangat melelahkan. Perjalanan jauh, bertemu banyak orang, dan aktivitas padat membuat anak terpapar stimulasi berlebihan. Transisi dari suasana riuh dan penuh aktivitas menuju rutinitas yang lebih terstruktur dapat memunculkan rasa kosong atau kehilangan. Anak mungkin belum mampu mengungkapkan perasaannya secara verbal. Sehingga emosi tersebut muncul dalam bentuk rewel, mudah tersinggung, atau sulit fokus.

Lebih lanjut, anak yang secara temperamen memang sensitif cenderung lebih merasakan perubahan ini. Mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses pengalaman dan kembali stabil secara emosional. Dengan kata lain, sensitivitas setelah liburan bisa menjadi tanda bahwa anak sedang memproses banyak hal sekaligus. Kemudian juga memberi ruang untuk pemulihan emosional menjadi langkah yang sangat penting.

Tanda-Tanda Anak Butuh Dukungan Ekstra

Tidak semua perubahan perilaku perlu di khawatirkan. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan Tanda-Tanda Anak Butuh Dukungan Ekstra. Misalnya, anak menjadi sangat mudah menangis, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau menolak pergi ke sekolah secara terus-menerus. Jika gejala tersebut berlangsung lebih dari dua minggu. Maka sebaiknya orang tua mulai mencari bantuan profesional. Meski begitu, dalam banyak kasus, fase sensitif ini bersifat sementara dan akan membaik seiring waktu. Menurut para ahli, kunci utama menghadapinya adalah empati dan konsistensi. Orang tua di sarankan untuk tidak langsung memarahi.

Atau menganggap anak berlebihan. Sebaliknya, validasi perasaan mereka dengan kalimat sederhana seperti, “Mama tahu kamu masih ingin liburan, ya.” Selanjutnya, buat rutinitas pagi dan malam yang konsisten agar anak kembali merasa aman. Rutinitas yang jelas membantu anak memahami apa yang akan terjadi setiap hari. Hal ini penting untuk mengurangi kecemasan akibat perubahan. Selain itu, berikan waktu khusus untuk quality time meski sekolah sudah di mulai. Aktivitas sederhana seperti membaca buku bersama. Atau mengobrol sebelum tidur dapat membantu anak merasa tetap di perhatikan dari setelah liburan malah Anak Sensitif.