
Gambut Asia Tenggara Bocor, Emisi Gas Rumah Kaca Meroket
Gambut Asia Tenggara Bocor, Emisi Gas Rumah Kaca Meroket Karena Beberapa Wilayah Lebih Banyak Melepaskan Emisi GRK. Lahan Gambut Asia Tenggara selama ini kerap disebut sebagai benteng alami penyerap karbon. Namun temuan ilmiah terbaru justru mengungkap fakta sebaliknya. Tentunya Gambut Asia Tenggara seperti di Indonesia, Malaysia. Dan juga sejumlah wilayah Asia Tenggara kini melepaskan lebih banyak emisi gas rumah kaca (GRK). Jika di bandingkan dengan kemampuannya menyerap karbon. Maka kondisi ini bahkan terjadi pada hutan rawa gambut yang masih tergenang air dan relatif alami. Studi terbaru menunjukkan bahwa ekosistem gambut tropis berkontribusi signifikan. Terlebihnya terhadap krisis iklim global melalui pelepasan karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4). Temuan ini mematahkan anggapan lama bahwa gambut yang basah selalu berfungsi sebagai penyimpan karbon bersih. Realitas di lapangan ternyata jauh lebih kompleks dan mengkhawatirkan.
Gambut Tropis Tak Lagi Jadi Penyerap Karbon Bersih
Selama puluhan tahun, gambut dikenal sebagai ekosistem yang mampu mengunci karbon dalam jumlah besar. Namun penelitian terbaru mengungkap bahwa gambut tropisnya kini berada dalam kondisi defisit karbon. Artinya, jumlah emisi yang di lepaskan ke atmosfer lebih besar. Jika di bandingkan dengan karbon yang di serap. Dalam kondisi alami yang tergenang air sekalipun. Maka proses biologis di dalam tanah gambut tetap menghasilkan emisi metana dalam jumlah signifikan. Dan Metana sendiri memiliki daya pemanasan global jauh lebih kuat. Jika di bandingkan CO2 dalam jangka pendek. Hal ini membuat kontribusi gambut terhadap perubahan iklim menjadi semakin serius. Meski tampak hijau dan tidak terbakar.
Indonesia Dan Malaysia Jadi Episentrum Emisi Gambut
Indonesia dan Malaysia disebut sebagai wilayah dengan kontribusi terbesar terhadap emisi gambut di wilayah ini. Kedua negara memiliki hamparan gambut tropis yang luas, terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaysia. Aktivitas manusia seperti drainase lahan, pembukaan perkebunan. Serta juga dengan perubahan tata air memperparah kondisi gambut. Namun yang mengejutkan, studi tersebut menegaskan bahwa bahkan gambut yang tidak di keringkan pun tetap menjadi sumber emisi. Artinya, masalah emisi gambut tidak hanya terkait dengan kerusakan akibat manusia. Akan tetapi juga sifat alami ekosistem gambut tropis yang sangat dinamis dalam melepaskan gas rumah kaca.
Metana Jadi Ancaman Tersembunyi Dari Gambut Basah
Salah satu temuan paling krusial adalah tingginya emisi metana (CH4) dari lahan gambut yang tergenang air. Kondisi anaerob atau minim oksigen di tanah gambut basah memicu aktivitas mikroba penghasil metana. Dan gas ini di lepaskan secara perlahan namun konsisten ke atmosfer. Metana memiliki potensi pemanasan global sekitar 28 kali lebih kuat. Jika di banding CO2 dalam periode 100 tahun. Dengan meningkatnya luas gambut tropis yang aktif secara biologis, emisi metana menjadi faktor yang mempercepat laju perubahan iklim. Ini menjadikan gambut bukan hanya korban krisis iklim. Akan tetapi juga penyumbang aktif.
Tantangan Besar Bagi Strategi Iklim Asia Tenggara
Temuan ini menghadirkan tantangan serius bagi kebijakan iklim di wilayah ini. Selama ini, perlindungan dan restorasi gambut di anggap sebagai solusi utama penurunan emisi. Namun fakta bahwa gambut alami pun bisa menjadi sumber emisi. Terlebih yang menuntut pendekatan yang lebih realistis dan berbasis sains. Restorasi gambut tetap penting, terutama untuk mencegah kebakaran besar yang melepaskan emisi dalam jumlah ekstrem. Namun upaya mitigasi iklim ke depan perlu mempertimbangkan emisi alami gambut, termasuk metana.
Pengelolaan air, pemantauan emisi jangka panjang. Serta strategi adaptasi berbasis ekosistem menjadi kunci menghadapi realitas baru ini. Studi terbaru membuktikan bahwa gambut wilayah ini kini berada dalam kondisi “bocor karbon”. Kemudian yang melepaskan lebih banyak gas rumah kaca daripada yang di serapnya. Indonesia dan Malaysia berada di garis depan tantangan ini. Fakta bahwa gambut alami pun menyumbang emisi menunjukkan bahwa krisis iklim tidak lagi hitam-putih. Perlindungan gambut tetap penting, namun kebijakan iklim harus di bangun di atas pemahaman ilmiah yang jujur. Tentunya agar solusi yang di ambil benar-benar efektif dan berkelanjutan.
Jadi itu dia beberapa fakta terkini terkait bocornya emisi gas rumah kaca yang kian meroket di Gambut Asia Tenggara.